Rabu, 27 Mei 2015

Perkembangan Agama Islam di Desa Neglasari



Masyarakat Desa Neglasari diperkirakan sudah mengenal Agama Islam sejak abad ke-17. Menurut keterangan, yang membawa ajaran Islam masuk ke Neglasari adalah Dalem Sawidak.  Keterangan ini diperkuat dengan ditemukannya benda peninggalan sejarah berupa Batu Besar yang digunakan Dalem Sawidak untuk pelaksanaan shalat pada waktu itu. Berdasarkan penulusuran pada tulisan Wahyu Wibisana yang dimuat dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat tanggal 11 Oktober 1988, Dalem Sawidak ini merupakan nama lain dari Anggadipa atau Wiradadaha III yang memerintah Sukapura sekitar tahun 1696. 


Sekitar tahun 1917, ajaran Islam di Neglasari mengalami perkembangaan yang pesat. Kondisi ini sangat mungkin terjadi mengingat Desa Neglasari pada waktu itu dipimpin oleh Eyang Arbasan yang juga seorang ulama. Pada masa pemerintahannya, selain menyelenggarakan urusan pemerintahan, beliau juga menyelenggarakan urusan keagamaan. Urusan keagamaan ini biasanya dilakukan oleh seorang lebe yang menyangkut masalah wakaf, infaq, pernikahan dan lain-lain.
Selain menjalankan tugas-tugas tersebut, Eyang Arbasan juga menyebarkan ajaran Islam bersama 7 orang teman seperguruannya (sebuah pesantren di Rawa Kubang Singaparna) di antaranya yaitu Daroji dan Rohidin.  Hal inilah yang menjadikan Eyang Arbasan juga dikenal sebagai seorang ulama (tokoh agama).
Mengingat tugas-tugas pemerintahan yang begitu luas dan kompleks, Eyang Arbasan kesulitan untuk dapat secara terus menerus menyebarkan dan mengajarkan Islam.  Oleh karena itu beliau mencari bantuan dari seorang ajengan (ulama) dari Dayeh Regol yang bernama ajengan Adnan (sekarang dikenal dengan nama Eyang Adnan). Kepada ajengan adnan ini, Eyang Arbasan mewakapkan beberapa tumbak tanahnya untuk mendirikan masjid dan tempat tinggal Eyang Adnan. Mesjid yang didirikan ajengan Adnan saat ini dapat ditemui di pinggir Jalan Raya Garut—Tasik Km 33 yang bernama Mesjid Al Adnan yang ada di wilayah Dusun Naga.  
Pada periode selanjutnya sekitar tahun 1915, ajaran Islam di Desa Neglasari dikembangkan oleh 5 (lima) ajengan yaitu
1.         Ajengan Samsudin yang mengembangkan Islam di wilayah Kampung Lengkong sehingga dikenal dengan sebutan Ajengan Lengkong.
2.         KH. Moh. Azizi yang mengembangkan Islam dengan mendirikan sebuah pesantren (sekarang bernama Pesantren Al Istiqomah)  di wilayah Cibengang (Kampung Sukaratu sekarang) sehingga dikenal dengan Ajengan Sukaratu.  Sholat Jumat pertama kali didirikan di Neglasari dilakukan di Sukaratu pada masa ajengan Azizi.
3.         Ajengan Harun yang mengembangkan Islam di wilayah Kampung Kadudampit (Kampung Sukamenak sekarang) sehingga dikenal dengan sebutan Ajengan  Kadudampit.
4.         Ajengan Asidin yang mengembangkan Islam di wilayah Kampung Rugul (Kampung Sukasari sekarang)  sehingga dikenal dengan sebutan Ajengan Rugul.
5.         Ajengan Owot yang mengembangkan ajaran islam di wilayah Kampung Sundawenang sehingga dikenal dengan sebutan Ajengan Sundawenang.
Perkembangan Islam di Neglasari terus berlanjut. Pengembangannya dilakukan oleh para santri  dan putra ajengan. Di antaranya Munir, Mugni, Abdul Kodir, Tajudin, dan Siti Jubaedah yang merupakan putra putrid dari ajengan Azizi (KH. Moh. Azizi).  
Pada tahun 1971 lembaga pendidikan Islam formal mulai didirikan yaitu Madrasah Ibtidaiya (MI). MI ini merupakan sekolah pendidikan dasar Islam yang setara dengan Sekolah Dasar (SD). MI yang pertama didirikan di Kepunduhan  Sukaratu sehingga diberi nama MI Sukaratu. Lembaga ini merupaka madrasah pertama yang berdiri di Desa Neglasari.
Lembaga pendidikan Islam di Neglasari terus bertambah. Tepatnya pada tahun  1997 mulai didirikan lembaga pendidikan Islam yang bersifat non formal seperti Madrasah Diniyah (Sekolah Agama).  Sampai saat ini jumlahnya ada 8 buah. Adapun untuk lembaga pendidikan yang bersifat formalnya seperti SMPI/SLTAI terpadu berjumlah 2 buah, MTs/MA berjumlah 2 buah dan Raudatul Athfal (RA) pendidikan formal setingkat   Taman Kanak-kanak (TK) berjumlah 5 buah.
Jumlah mesjid pun terus bertambah. Selain mesjid Al Adnan yang berada di Kepunduhan Naga juga ada 13 mesjid lainnya dengan rincian di Kepunduhan Sukaratu ada 5 buah, di Kepunduhan Tanjaknangsi ada 4 buah, di Kepunduhan Naga ada 2, dan di Kepunduhan Cikeusik ada 2, sehingga jumlah keseluruhan sebanyak 14 mesjid.  Demikian juga dengan jumlah langgar dan mushola  yang sampai saat ini berjumah 16 langgar 16, dan 4 mushola.

1 komentar: