Masyarakat Desa Neglasari diperkirakan sudah mengenal
Agama Islam sejak abad ke-17. Menurut keterangan, yang membawa ajaran Islam
masuk ke Neglasari adalah Dalem Sawidak.
Keterangan ini diperkuat dengan ditemukannya benda peninggalan sejarah
berupa Batu Besar yang digunakan Dalem Sawidak untuk pelaksanaan shalat pada
waktu itu. Berdasarkan penulusuran pada tulisan Wahyu Wibisana yang dimuat
dalam Surat Kabar Pikiran Rakyat tanggal 11 Oktober 1988, Dalem Sawidak ini
merupakan nama lain dari Anggadipa atau Wiradadaha III yang memerintah Sukapura
sekitar tahun 1696.
Sekitar tahun 1917, ajaran Islam di Neglasari mengalami perkembangaan yang pesat. Kondisi ini sangat mungkin terjadi mengingat Desa Neglasari pada waktu itu dipimpin oleh Eyang Arbasan yang juga seorang ulama. Pada masa pemerintahannya, selain menyelenggarakan urusan pemerintahan, beliau juga menyelenggarakan urusan keagamaan. Urusan keagamaan ini biasanya dilakukan oleh seorang lebe yang menyangkut masalah wakaf, infaq, pernikahan dan lain-lain.
Selain menjalankan tugas-tugas tersebut, Eyang Arbasan
juga menyebarkan ajaran Islam bersama 7 orang teman
seperguruannya (sebuah
pesantren di Rawa Kubang Singaparna) di antaranya yaitu
Daroji dan Rohidin. Hal
inilah yang menjadikan Eyang Arbasan juga dikenal sebagai seorang ulama (tokoh
agama).
Mengingat tugas-tugas pemerintahan yang begitu luas
dan kompleks, Eyang Arbasan kesulitan untuk dapat secara terus menerus
menyebarkan dan mengajarkan Islam. Oleh
karena itu beliau mencari bantuan dari seorang ajengan (ulama) dari Dayeh Regol yang bernama ajengan Adnan (sekarang dikenal dengan nama Eyang Adnan).
Kepada ajengan adnan ini, Eyang
Arbasan
mewakapkan beberapa tumbak tanahnya untuk mendirikan masjid dan tempat tinggal
Eyang Adnan. Mesjid yang
didirikan ajengan Adnan saat ini dapat ditemui di pinggir Jalan Raya
Garut—Tasik Km 33 yang bernama Mesjid Al Adnan yang ada di wilayah Dusun Naga.
Pada periode selanjutnya sekitar tahun 1915, ajaran Islam di Desa Neglasari dikembangkan oleh 5 (lima) ajengan
yaitu
1.
Ajengan Samsudin yang mengembangkan Islam di wilayah Kampung Lengkong sehingga
dikenal dengan sebutan Ajengan
Lengkong.
2.
KH. Moh. Azizi yang mengembangkan Islam dengan mendirikan sebuah
pesantren (sekarang bernama Pesantren Al Istiqomah) di wilayah Cibengang (Kampung Sukaratu sekarang) sehingga dikenal dengan Ajengan Sukaratu.
Sholat Jumat pertama kali didirikan di
Neglasari dilakukan di Sukaratu pada masa ajengan Azizi.
3.
Ajengan
Harun yang
mengembangkan Islam di wilayah Kampung Kadudampit (Kampung Sukamenak sekarang)
sehingga dikenal dengan sebutan Ajengan Kadudampit.
4.
Ajengan Asidin
yang mengembangkan Islam di
wilayah Kampung Rugul (Kampung Sukasari sekarang) sehingga dikenal dengan sebutan Ajengan
Rugul.
5.
Ajengan Owot yang mengembangkan ajaran islam di wilayah Kampung Sundawenang sehingga dikenal dengan sebutan Ajengan Sundawenang.
Perkembangan Islam di Neglasari terus berlanjut. Pengembangannya dilakukan oleh para
santri dan
putra
ajengan. Di antaranya
Munir, Mugni,
Abdul Kodir, Tajudin, dan Siti Jubaedah yang merupakan putra putrid dari ajengan Azizi (KH. Moh. Azizi).
Pada tahun 1971
lembaga pendidikan Islam formal
mulai didirikan yaitu
Madrasah Ibtidaiya (MI).
MI ini merupakan sekolah pendidikan dasar Islam yang
setara dengan Sekolah
Dasar
(SD). MI yang pertama
didirikan di Kepunduhan Sukaratu
sehingga diberi nama
MI Sukaratu.
Lembaga
ini
merupaka madrasah pertama yang berdiri di Desa Neglasari.
Lembaga pendidikan Islam di Neglasari terus bertambah.
Tepatnya pada tahun
1997 mulai didirikan
lembaga pendidikan Islam yang bersifat non formal seperti Madrasah Diniyah
(Sekolah Agama). Sampai saat ini
jumlahnya ada 8 buah. Adapun untuk lembaga pendidikan yang bersifat formalnya seperti
SMPI/SLTAI terpadu berjumlah
2 buah,
MTs/MA berjumlah 2 buah
dan
Raudatul Athfal (RA) pendidikan formal setingkat Taman Kanak-kanak (TK) berjumlah 5 buah.
Jumlah mesjid pun terus bertambah. Selain mesjid Al
Adnan yang berada di Kepunduhan Naga juga ada 13 mesjid lainnya dengan rincian
di Kepunduhan Sukaratu ada 5 buah, di Kepunduhan Tanjaknangsi ada 4 buah, di
Kepunduhan Naga ada 2, dan di Kepunduhan Cikeusik ada 2, sehingga jumlah
keseluruhan sebanyak 14 mesjid. Demikian
juga dengan jumlah langgar dan
mushola yang sampai saat ini berjumah 16
langgar 16, dan 4 mushola.

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus