Senin, 01 Juni 2015

Sentra Wajit & Angleng Bu Aminah


Salah satu oleh-oleh dari Desa Neglasari ini adalah Wajit & Angleng asli tanpa pemanis buatan. Wajit & Angleng ini dibuat oleh ibu paruh baya dan dibantu adik dan cucunya. Proses pembuatan yang masih manual ini membuat wajit dan angleng yang manis dan legitnya pas dimulut. Wajit khas Neglasari ini merupakan makanan ringan yang terbuat dari beras ketan, gula merah, dan parutan kelapa. Bentuknya mengerucut seperti piramida dan dibungkus dengan daun jagung kering. Makanan tradisional ini biasanya disajikan di acara-acara khusus seperti perayaan hari raya, hajatan nikahan atau khitanan, syukuran, dan sebagainya.


            Selain rasanya yang legit, wajit ini juga bisa menahan rasa lapar Anda. Coba saja makan 3 hingga 4 buah wajit khas Neglasari. Rasa lapar Anda bisa tertunda hingga beberapa waktu ke depan. Wajit ini juga bisa bertahan hingga 20 hari  jika disimpan di tempat yang kering. Namun, hati-hati jika menyimpannya di tempat yang lembab karena akan musah berjamur. Selain wajit khas Neglasari, ada juga makanan khas lain seperti angleng. Ini bisa Anda jadikan sebagai alternative lain untuk dijadikan oleh-oleh sanak keluarga. Untuk bisa mendapatkan wajit khas Neglasari ini, Anda mengunjunginya langsung ke sentra Wajit&Angleng Neglasari yang ada di Kampung Bunisari Desa Neglasari Kabupaten Tasikmalaya.
             Bila anda ingin membeli lebih banyak wajit dan angleng bu Aminah anda bisa memesannya melalui nomer handphone berikut ini 0878 2662 7646  .

Sabtu, 30 Mei 2015

Sejarah Kampung Naga


Sejarah/asal usul Kampung Naga menurut salah satu versi nya bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.




Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga "Sa Naga" yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya.
Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga.